Senin, 27 Mei 2013

Dilematika Rokok dan Dunia Pendidikan Kita

 
Bukan rahasia lagi, rokok dan dunia pendidikan ibarat pepatah “malu-malu tapi mau”. Betapa tidak, ketika dunia pendidikan kita berkata “memusuhi” rokok, pada kenyataannya iklan rokok justru masuk ke dalam dunia pendidikan itu sendiri. “Malu-malu” melarang perokok di area sekolah maupun kampus, tetapi hampir semua aktivitas kegiatan yang diselenggarakan di sekolah maupun di kampus menggunakan sponsor dari perusahaan rokok.

Penetrasi iklan rokok memang luar biasa dalam dunia pendidikan kita. Tampaknya iklan rokok sudah dilakukan sangat sistematis dengan menyasar kelompok anak sekolah dan mahasiswa. Para pengiklan rokok akhir-akhir ini memang lebih senang memberikan sponsor terhadap kegiatan pekan seni dan olahraga di kalangan mahasiswa dan sekolah. Dalam event-event yang kebanyakan dihadiri oleh kalangan pelajar dan mahasiswa, selalu memakai sponsor perusahaan rokok. Ironisnya, event olahraga pun kebanyakan disponsori oleh rokok. Jelas ini sangat bertolak belakang dengan semangat kesehatan.

Dalam suatu kasus, event olahraga yang disponsori perusahaan rokok sudah tidak canggung lagi untuk memasarkan barang mereka dalam bentuk langsung yakni rokok dalam salah satu event olahraga. Perusahaan rokok ini menggunakan rokok sebagai pengganti tiket dalam pelaksanaan event tersebut. Penonton yang kebanyakan pelajar harus membeli rokok untuk bisa masuk dan menyaksikan event tersebut.

Bahkan belakangan ini, penetrasi perusahaan rokok bukan sekadar sebagai sponsor olahraga, melainkan sebagai pemberi beasiswa, tak pelak inilah yang seolah membuat dunia pendidikan kita sudah tidak bisa dipisahkan dari industri rokok.

Dilematis memang jika melihat hal seperti itu terjadi di sekitar kita. Pendidikan memang penting, menginggat pula bahwa biaya pendiikan sekarang memang tidak murah dan sedikit. Sekolah harus memeras otak untuk melaksanakan pendidikan yang berkualitas dengan budget seadanya. Disinlah peran perusahaan rokok muncul. Dengan basic dana besar yang dimiliki perusahaan besar, maka tidak sulit bagi mereka untuk memberikan iming-iming bantuan pendanaan di lingkungan sekolah dan kampus.

Pertanyaannya, apakah hal tersebut merupakan kebenaran? Pada dasarnya perusahaan rokok menghasilkan uang dari usaha "menghancurkan" kesehatan konsumen mereka sendiri, sementara keuntungan dari hal tersebut sangat besar. Perusahaan rokok merupakan perusahaan yang memiliki basic keuntungan yang besar tiap tahunnya di Indonesia. Melihat bahwa besarnya jumlah penduduk di Indonesia, maka kalkulasi keuntungan yang bisa didapatkan juga akan sangat besar.

Ibarat kata, jika dari pemasaran rokok sendiri yang memasang pasar di lingkungan kampus, andaikata dalam lingkungan kampus mahasiswanya berjumlah 40.000 dan kurang dari seperempatnya saja (10. Mahasiswa) adalah perokok aktif, bisa dibayangkan keuntungan yang didapatkan sudah cukup besar. Jika dari 10.000 mahasiswa tadi bisa menghabiskan 1 bungkus rokok sehari, dan keuntungan yang didapat perusahaan rokok per 1 bungkus adalah Rp 1.000,- maka kalkulasinya dalam sehari perusahaan rokok untung 10 jt, kemudian jika dihitung dalam 1 tahun mereka akan mendapat untung 3 milyar lebih. Catatanya adalah, 3 milyar lebih tersebut hanya didapat di satu target pasar saja yakni lingkungan sebuah kampus, dan itu belum termasuk dari target pasar lainya.

Kemudian perusahaan rokok mendistribusaikan keuntungan mereka ke sekolah atau lingkungan kampus dalam bentuk beasiswa senilai 2 milyar dalam 1 tahun, maka mereka (perusahaan rokok) masih mendapat surplus yang besar dari kegiatan mereka. Maka tak heran jika perusahaan rokok mamasang target lingkungan sekolah atau kampus, karena potensi untuk mengembalikan keuntungan mereka ke masyarakat dalam bentuk "bantuan" dapat dengan mudah teralihkan. Benar-benar sebuah bentuk atau cara yang pintar dalam melakukan perputaran uang demi mendapat keuntungan yang lebih besar.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar